ngepeter's face

ngepeter's face
wajah orang-orang ruwet

Kamis, 05 Mei 2011

ANALISIS NOVEL "CINTA YANG TERTUNDA" KARYA PANCA TRIWATI

BAB I
Kelemahan dan Kelebihan Cerpen Dengan Judul “Cinta Yang Tertunda”

A. Kelemahan Cerpen Yang Berjudul “Cinta Yang Tertunda”
Dalam cerpen ini ada beberapa kelemahan yang bernilai negativ pada pandangan pembaca khususnya pada peneliti, karena dengan nilai-nilai negative ini dapat dijadikan contoh dan dapat diambil hikmahnya. Kelemahan ini tedapat pada tokoh Tante Ira, mengapa kelemahan itu terletak pada tokoh Tante Ira ? karena dalam cerpen menceritakan kalau Tante Ira sudah pernah hamil sebelum menikah dan sebelum umur 20 tahun, yang anehnya lagi anak yang dilahirkannya tidak dirawat sendiri melainkan dirawat oleh kakanya. Akan tetapi ketika Dina (anak Tante Ira) sudah SMP, dia memilih tinggal dengan Tante Ira dan orang tuanya tinggal di luar negeri. Walaupun selama tinggal dengan Tante Ira, Dina belum mengetahui sebenarnya.
Dari sinilah penulis dapat menyimpulkan atas cerita yang terdapat pada cerpen tersebut, ada kelemahan yang bernilai negative dan melanggar suatu aturan dan norma-norma agama, pada kehamilan Tante Ira yang di luar nikah. Setelah itu orang tua yang tak mau merawat anaknya, sampai dewasa dan Dina tahu kebenarannya kalau Dina hidup tanpa seorang ayah.
Dari kelemahan pada cerpen ini, pembaca dapat mengambil hikmahnya dan dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi anak-anak yang menginjak remaja jangan terlalu percaya pada rayuan lelaki.

B. Kelebihan Cerpen Dengan Judul “Cinta Yang Tertunda”
Dalam cerpen ini walaupun ada kelemahan yang bernilai negative, akan tetapi juga ada nilai yang positif yanitu pada Tante Ira, walupun Tante Ira sudah bertaubat dan berhati-hatu dalam menjalani kehidupan, serta kejadian-kejadian pahit, tidak akan ingin terjadi lagi pada dirinya atau pada puti kesayangannya yaitu Dina, karena itu dalam verita verpen “cinta yang tertunda” Tante Ira benar-benar mengawasi tingkah laku Dina, setiap ada acara keluar bersama temannya, tante ira selain tidak mengijini lagi karena ketakutan yang terjadi pada Tante Ira.
Dari sini sikap Tante Ira pada Dina sangatlah bernilai positif, karena benar-benar mendidik Dina untuk berhati-hati pada lelaki.
Dari kekangan inilah akhirnya semua kebenarannya terungkap, karena Dina terus mendesak alas an apa yang melarang Dina untuk bermain bersama temannya. Walupun kebenaran itu terungkap, sedikit sakit hati Dina, akan tetapi akhirnya Dina bias menerima segala apa yang terjadi selama ini.
Ini merupakan kelebihan dari cerpen dengan judul “cinta yang tertunda” tidak jarang ada kejadian yang menerima atas kejadian seperti ini. Untuk itu dari kelebihannya bias kita ambil nilai-nilai positifnya untuk tidak gegabah, emosi dalam mengahadapi masalah, apapun jenis masalah itu, kita tak luput kalau semua itu adalah suatu cobaan yang hanya untuk mengukur sebasar apa keimanan dan kesabaran kita.


BAB II

A. Kajian Struktural
Sebuah karya sastra fiksi atau puisi menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsure (pembangun)-nya. Di satu pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams. 1981: 68). Dipihak lain, struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antar unsur (instrinsik) yang bersifat timbale balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membetuk satu kesatuan yang utuh. Secara sendiri, terisolasi dari keseluruhannya, bahan, unsur, tau bagian-bagian tersebut tidak penting, bahkan tidak ada artinya. Tiap bagian akan menjadi bararti dan penting setelah ada dalam hubungannya dengan bagian-bagian yang lain, serta bagaimana sumbangannya terhadap keseluruhan wacana.
Analisis structural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur instrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Setelah dicobajelaskan bagaimana fungsi masing-masing unsur itu dalam menunjang makna keseluruhannya, dan bagaimana hubungan antar unsur itu sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas-kemaknaan yang padu. Misalnya, bagaimana hubungna antara peristiwa yang satu dengan yang lain, kaitannya dengan pemplotan yang tak selalu kronologis, kaitannya dengan tokoh dan penokohan, dengan latar dan sebagainya.
Dengan demikian, pada dasarnya analisis structural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antarberbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghsilkan sebuah kemenyuluruhan. Analisis structural tak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, misalnya peristiwa, plot, tokoh, latar, atau yang lain. Namun, yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antarunsur itu, dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang iingin dicapai. Hal itu perlu dilakukan mengingat bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks dan unik. Disamping setiap karya mempunyai cirri kekompleksan dan keunikannya sendiri dan hal iinilah antara lain yang membedakan antara karya yang satu dengan karya yang lain. Namun, tidak jarang analisis structural cenderung kurang tepat, sehingga yang terjadi hanyalah analisis fragmentaris yang terpisah-pisah. Analisis yang demikian inilah yang dapat dituduh mencincang karya sastra sehingga justru menjadi tidak bermakna.
Namun, penekanan pada sifat otonomi strukturalisme dan atau kajian structural. Hal itu disebabkan bagaimanapun juga sebuah karya sastra tidak mungkin dipisahkan sama sekali dari latar belakang social budaya dan atau latar belakang kesejarahannya. Melepas karya sastra dari latar belakang social budaya dan kesejarahannya, akan menyebabkan karya itu menjadi kurang bermakna, atau paling tidak maknanya menjadi amat terbatas, atau bahkan menjadi sulit ditafsirkan. Hal itu berarti karya sastra menjadi kurang gayut dan bermanfaat bagi kehidupan. Oleh karena itu, analisis struktural sebaiknya dilengkapi dengan analisis yang lain, yang dalam hal ini semiotik, sehingga menjadi analisis struktural-semiotik, atau analisis struktural yang dikaitkan dengan keadaan social budaya secara lebih luas.

B. Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis adalah pendekatan penalaahan sastra yang menekankan pada segi-segi psikologis yang terdapat dalam sautu karya sastra. Mengapa segi-segi psikologis ini mendapat perhatian dalam penelaahan dan penelitian sastra ? Hal ini terjadi diesebabkan timbulnya kesadaran bagi para pengarang, yang dengan sandirinya juga bagi kritikus sastra, bahwa perkembangan dan kemajuan masyarakat di zaman modern ini tidaklah semata-mata dapat diukur dari segi material saja, tetapi juga dari segi rohaniah atau kejiawaan.
Kemajuan-kemanjuan tegnologi serat modernisasi dalam segala sektor kehidupan tampaknya bermula dari sikap kejiwaan tertentu serta bermuara pula ke permasalahan kejiawaan. Tidak sedikit jumlahnya manusia yang sudah sukses dalam kehidupan kebendaan, namun ia masih juga berusaha keras mencapai taraf kehidupan kebendaan yang lebih tinggi, yang tidak pernah ada batasnya itu. Akhirnya kandas dan menemukan dirinya terbenam ke dalam penyakit kejiwaan. Oleh sebab itu banyak pengarang-pengarang terkemuka dewasa ini mengemukakan tentang permasalahan kehidupan dengan memperhatikan pendapat-pendapat atau teori-teori psikologi.
Dari berbagai cabang psikologi, psiko-analisislah yang lebih banyak mempunyai hubungan dengan sastra, sebab ia member teori adanya dorongan bahwa sadar mempengaruhi tingkah laku manusia. Pelopor psiko-analisis ini adalah Sigmund Freud. Prinsip-prinsipnya adalah :
a. Lapisan kejiwaan yang paling dalam (rendah) adalah lapisan bawah sadar (libido) atau daya hidup, yang berbentukdorongan seksual dan perasaan-perasaan lain yang mendorong manusia mencari kesenangan dan kebahagiaan.
b. Pengalaman-pengalaman sewaktu bayi dan sewaktu kanak-kanak, banyak mempengaruhi sikap hidup da masa dewasa. Yang paling terkenal dalam hal ini adalah ikatan antara anak perempuan dengan ayahnya dan antara anak laki-laki dengan ibunya.
c. Semua buah fikiran, betapapun kelihatannya tidak berarti, masih tetap penting bila dihubungkan dengan daerah bawah sadar.
d. Konflik emosi, pada dasarnya adalah konflik antara perasaan bawah sadar dengan keinginan-keinginan yang muncul dari luar.
e. Emosi itu sendiri bersafat dwirasa. Tidak ada emosi dari satu jenis. Benci dan sayang saling bercampur. Seorang laki-laki mungkin membenci seorang wanita tetapi sekaligus dia juga tetarik kepadanya.
f. Sebagian konflik dapat diselesaikan atau disembunyikan dengan cara yang dapat diterima. Apabila dai mampu keluar dari konflik itu, disebut sublimasi, tetapi bial gagal ia akan menyerupau neurosis, yaitu konflik emosi di dasar jiwa.
Pada tahun 1923, Sigmund Freud merumuskan hipotesis akhirnya berhubungan dengan seluk beluk jiwa manusia. Dia menyimpulkan, bahwa seluk beluk jiwa manusia itu tersusun dalam tiga tingkat, yaitu id (libido atau dorongan dasar), ego (peraturan secara sadar antara id dan realitas luar/sosial), dan superego (penuntun moral dan aspirasi seseorang). Id tidak bisa dimusnahkan, tetapi hanya dapat dikawal, di dalam tidur ia menjelma kembali tetapi sebagian saja. Ego biasanya mengawal dan menekan dorongan id yang kuat, mengubah sifatnya jika ia menjelma kea lam tingkat sadar. Superego berfungsi sebagai lapisan yang menolak sesuatu yang melanggar prisip moral, yang menyebabkan seseorang merasa malu atau memuji sesuatu yang dianggap baik. Apabila terdapat keseimbangan yang wajar dan stabil antara ketiga unsur itu, akan memperoleh struktur watak manusia biasa.
Kelemahan teori psiko-analisis Sigmund Freud, yaitu :
a. Dianggap berlebihan menyorot kembali segalanya ke alam bayi.
b. Teori ini tidak boleh dan tidak dapat dibuktikan secara scientific, ia sebenarnya merupakan suatu system matefora.
c. Terdapat terlalu banyak jenis aliran psiko-analisis sebagai suatu ilmu pengetahuan.
d. Penekanan terlalu berlebihan tentang penumpuan pada seksual.
Pemanfaatan teori ini dalam sastra yang dilakukan oleh kebanyakan pengarang, ialah dengan mengambil bagian-bagian yang berguna dan tulen untuk pertimbangan mereka dalam mengkaji sifat pribadi seseorang.

BAB III

Analisis Cerpen Tentang “Cinta Yang Tertunda”

Langkah-Langkah Dan Proses Analisis
Pada langkah pertama penulis menekankan pada kajian keseluruhannya baik berupa unsur intrinsik maupun ekstrinsiknya, namun tekanan pada unsur instrinsik, yaitu tentang penokohan dan perwatakannya.
Pada cerpen ini unsur-unsur instrinsiknya yaitu
1. Tema
Pada cerpen ini menjelaskan tentang beberapa masalah yak ni sebuah cinta yang tertunda akibat ada masa lalu yang tidak ingin terjadi lagi pada putrid kesayangannya yang menjadikan suatu keterpaksaan dalam akibat sang orang tua atau sang ibu menyamar sebagai tante, melarang untuk berpacaran, karena sang ibu tidak mau kejadian itu terjadi pada anaknya. Biarkan kejadian itu hanya terjadi pada ibunya.
Sang ibu selalu melarang apabila anaknya mau keluar acara bersama temannya, disisi positif niatan ibu sangat baik, disisi lain anaknya merasa murung tidak bias menghadiri pesta temannya.
Bukti pada cerpen ketika sang ibu masih dianggap sebagai tantenya.

“aku nggak mau kamu hamil sebelum menikah, Dina…”
“Tante Ira, Dina kaget bukan main. Tante Ira menarik nafas berat. Aku tak mau kejadin yang sama akan terulang padamu…”
“apa maksud tante ?”
“aku hamil saat usiaku belum mencapai dua puluh tahun. Celakanya dia tak pernah tahu orang tuanya dia keburu mengirimnya ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah di sana. Dan aku kehilangan kontak dengannya, lirih suara tante.”

Dari bukti di atas merupakan cerita sedikit tentang alasan Tante Ira yang sebenarnya orang tuanya yang melarang Dina untuk pacaran, takutnya kejadian itu terulang lagi pada Dina anaknya.
Pada cerpen ini termasuk tema yang mengangkat masalah kehidupan seorang anak yang dilarang bermain kemana-mana dengan tujuan nilai yang positif.

2. Cerita
Dalam cerpen ini mengisahkan tentang kehidupan Dina yang selama ini dikekang di dalam rumah. Dian yang masih duduk di SMP memutuskan untuk tinggal bersama Tante Ira, dan ayah ibunya pergi ke luar negeri untuk memburu nafkah. Kebutuhan Dina selalu tercukupi, baik masalah baju, make up, dll. Hanya pada persoalan laki-laki Tante Ira tidak mengijinkan Dina untuk bermain keluar. Dari sini timbul pertanyaan besar dalam diri Dina apa sih penyebabnya sampai tidak diijini. Sampai akhirnya Dina mengetahui dengan pengakuan Tante Ira kalau larangan Tante Ira terhadap Dina itu bernilai positif agar tidak terjadi lagi pada anaknya. Dengan ini Dina menyadari semuanya, dia sekarang termenung atas yang terjadi pada kehidupannya.

3. Pemplotan
Staton mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisi kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa lainnya.
Peristiwa, konflik, dan klimaks ketiga unsur ini merupakan unsur yang amat esensial dalam pengembangan sebuah plot cerita.
a. Paristiwa atau Kejadian
Dalam penggunaan istilah action (aksi, tindakan) dan event (peristiwa kejadian) baik secara bersama-sama atau bergantian.
Pada cerpen ini terdapat suatu peristiwa yang telah dimainkan pada tokoh Dina, yaitu Dina tersebut meminta pengertian atas hubungannya dengan kekasihnya yaitu Roi, setiap mau keluar Dina selalu minta izin akan tetapi Tante Ira selalu tidak mengizini Dina untuk pergi, tetapi Tante Ira pada Roi kekasihnya, begitu tidak mengenakkan yang menunjukkan kejelasan bahwa ketidak setujuan antara Dina berpacaran atau berteman dengan Roi.
Bukti dari cerpen,

“Akhirnya bulan ini bakal ada acara prom night. Masalhnya lagi-lagi terbentur pada Tante Ira. Dia sama sekali nggak setuju Dina ikut.”
“Dina mengira larangan ini ada hubungannya sama Roy! Mama, apa yang mesti Dina lakukan ? nggak mungkin donk Dina nggak ikut acara itu ? mama tolongin Dina dong….”
“Sampai di situ Dina menghentikan ketikannya. Pandangannya mulai buram tertutup air mata yang mulai merembes keluar. Cewek itu menghela nafas berat. Saat itu ingin rasanya Dina menghambur ke dalam pelukan mamanya, dan menangis sepuasnya.”

Dari bukti di atas Tante Ira tak menyetujui sang ibunda yang ada di luar negeri juga terdiam tak bias melakukan apa-apa. Dari sinilah awal peristiwa yang terjadi dalam cerpen ini.

b. Konflik
Konflik adalah sesuatu yang dramatic mengacu pada adanya aksi dan aksi balasan, atau kejadian yang tergolong penting (burupa peristiwa fungsional utama/kernel) yang nerupakan unsur yang esensial dalam pengembangan plot.
Pada cerpen ini terdapat konflik yang begitu besar yang dialami oleh Dina dan Tante Ira, yakni sebuah permasalahan Dina sama Roy sang kekasihnya. Kedekatan mereka tak disenangi dan tak dihiraukan ketika ada acara keluar bersama teman-temannya.
Tante Ira selalu tidak member ijin kepada Dina. Dina lebih marah lagi karena ketika ijin tak dihiraukan, sang orang tuanya juga terdiam, Dina lebih marah dan terdiam murung da dalam kamar. Walaupun teman-temannya menghibur terutama Roy Dina tetap sedih karena untuk izin sekali dalam Prom night tak diizinkan.
Bukti pada cerpen,

“Kok murung ? suara Roy dekat ke telinga Dina. Gimana nggak ? mata bulat Dina menatap sedih. Kayaknya aku nggak dating ke pesta nanti…”
“Roy bertanya lewat tatapannya yang mengatakan : Tante Ira ?”
“Iya, Tante Ira nggak member izin aku.”
“Udah deh nggak usah sedih gitu. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi sebelum hari H itu. Pasti aka nada perubahan…”
“Waktunya kan nggak lama lagi, Roy…kamu yakin ?”
“Roy nyengir. Harus!”
“Kok bisa optimis gitu ?”
“Karena aku punya cinta…”
“Nggak ada hubungannya kaleee… cinta dengan urusan ini?”
“Banyak! Roy tersenyum yakin. Karena sang cinta-lah yang akan membawa keajaiban untuk kita. Karena kita punya cinta itu. Aku yakin, cinta sejati nggak akan mengecewakan. Meski awalnya nggak pernah berjalan dengan mulus, tapi, ia pasti akan membawa akhir yang membahagiakan.”

Pada bukti di atas konflik yang terjadi itu pada Dina dan Tante Ira yang tidak mau mengizinkan Dina keluar ke pesta itu. Kemudian Roy berusaha menhibur Dina dan menyakinkan Dina kalau pasti akan diizinkan.

c. Klimaks
Titik puncak permasalahan dalam sebuah karya sastra. Pada cerpen ini terletak pada Dina yang mengetahui awal alas an kenapa Dina tak diizinkan untuk keluar bersama teman-temannya yaitu ketika Tante Ira telfon pada orang tuanya Dina, mereka membicarakan tentang alas an tak mengizinkan Dina keluar. Dengan tak sengaja Dina mengetahui pembicaraan itu, akhirnya setelah selesai telfon Dina langsung menyatakan pada Tante Ira apa sebenarnya yang terjadi. Dengan adanya hal itu Tante Ira menceritakannya semua dengan hati yang sangat sakit.
Kenapa Tante Ira tak mengizinkan Dina keluar karena ada alasannya yaitu Tante Ira tidak ingin kejadian itu terjadi lagi pada anaknya. Tante Ira cerita kalau pernah hamil diusia sebelum dua puluh tahun yang dihamili oleh Ifan, karena tuntutan kuliah orang tuanya, akhirnya Ifan pergi meninggalkan tante. Sampai lahir Tante Ira bingung menitipkan pada siapa anaknya. Dan orang tuamu lah yang meminta untuk bersedia merawat kamu.
Dari penjelasan di atas sebuah klimaks dalam sebuah cerpen yang menjadikan desain dan jalannya cerita.
Bukti pada cerpen,

“Maaf tante, aku memang salah” Dina menggigit bibirnya menahan cemas yang kian menyesak.
“Tante Ira tetap bergeming. Matanya sama sekali tak menoleh kea rah Dina yang berdiri gelisah di sampinya. Dina sudah nyaris menyerah melihat kebisuan tantenya. Padahal Dina sudah berusaha menerangkan ketidak sengajaan menguping.”
“Tante…. Sekali lagi Dina mencoba. Ia sudah nekat untuk menuntaskan masalah ini. Apapun akibatnya nanti.”
“Kamu yakin mau mendengarnya ? suara Tante Ira hamper-hampir tak terdengar. “Kamu sudah siap untuk menerimannya ?”
“Sebetulnya semua ini tentang apa tante ? Dina mencoba tabah. Padahal saat itu jantungnya sudah berdetak kencang melebihi batas normal. Kenapa semua orang kayaknya sengaja menghindar kalau aku Tanya tentang ini? Siapa Irvan itu, tante? Apa ada hubungannya sama aku? Apa sebetulnya yang nggak boleh aku tahu ?”
“Tante Ira menghela nafas berat. Wajah ayu-nya tak mampu lagi menyembunyikan keresahan hatinya. Duduklah Din!”
“Dina menurut. Ia kian sadar, masalah ini benar-benar serius.”
“Kamu tahu apa alasanku, kenapa aku tak suka kamu pacaran dengan Roy?”
Jantung Dina serasa akan melompat keluar dari rongga dadanya mendengar nama Roy ikut duikaitkan. Jadi benar ketakutannya ini, bahwa masalahnya memang ada hubungannya dengan Roy?
“Aku nggak mau kamu hamil sebelum menikah Din…”
“Tante? Dina kaget bukan main.”
Tante Ira menarik mafas berat. “Aku tak mau kejadian yang sama akan terulang padamu…”
“Apa maksud tante?”
“aku hamil saat usiaku belum mencapai dua puluh tahun. Celakanya dia tak pernah tahu orang tuanya dia keburu mengirimnya ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah di sana. Dan aku kehilangan kontak dengannya, lirih suara tante Dina. Tatapannya jauh menerawang…..”
Ya Tuhan, jadi Tante Ira pernah hamil ? Tak mungkin! Protes Dina dalam hati. Jantungnya berdebar kencang saat sebuah nama mendadak melejit di fikirannya. Apa dia yang dimaksud itu adalah….Irvan?
Tante Ira mengangguk halus “Ya Irvan adalah ayah dari anak yang pernah aku lahirkan. Bayi itu lahir selamat. Bayi perempuan yang sehat dan lucu. Tetapi aku sama sekali tak siap menerima kehadirannya.”
Saat itu aku cuma memikirkan bagaimana caranya aku bisa melanjutkan kuliah. Aku sempat kebungungan dan hamper-hampir putus asa. Untunglah mamamu member jalan lain….”
Samar-samar Dina masih bisa mendengar suara tantenya, “Nama bayi itu ….Dina”
Tiba-tiba keheningan yang dingin seolah membekukan ruangan itu. Dina makin terenyak di kursinya. Tubuhnya bergetar hebat, dan tak satu kata pun yang keluar dari bibirnya yang memucat. Dina merasa dunianya seakan runtuh mendadak dan semuanya jadi jungkir balik berantakan!
Nama bayi itu….Dina. suara itu seperti dating dari kejauhan, membawa gaung yang menyakitkan dan terus mengema di kepalanya…..

Penahapan plot terdiri dari tahap awal (begining), tahap tengah (midle), tahap akhir (end)
a. Tahap Awal
Disebut juga tahap perkenalan yang berisi sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan tahap berikutnya.
Misalnya pengenalan latar, pada nama-nama tempat, pada cerpen ini,

Mama, barusan Dina rebut lagi sama Tante Ira. Biasa, urusan yang itu lagi. Padahal Dina cuma minta sedikit aja pengertiannya soal hubungan Dina sama Roy.
“Akhirnya bulan ini bakal ada acara prom night. Masalhnya lagi-lagi terbentur pada Tante Ira. Dia sama sekali nggak setuju Dina ikut.”
“Dina mengira larangan ini ada hubungannya sama Roy! Mama, apa yang mesti Dina lakukan ? nggak mungkin donk Dina nggak ikut acara itu ? mama tolongin Dina dong….”
“Sampai di situ Dina menghentikan ketikannya. Pandangannya mulai buram tertutup air mata yang mulai merembes keluar. Cewek itu menghela nafas berat. Saat itu ingin rasanya Dina menghambur ke dalam pelukan mamanya, dan menangis sepuasnya.”
b. Tahap Tengah
Disebut juga tahap pertikaian menampilkan pertentangan atau konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap sebelumnya menjadi meningkat dan menegangkan.
Pada cerpen ini,

Malam itu untuk kesekian kalinya Dina memeriksa mail-box nya. Tapi lagi-lagi ia harus kecewa karena tak satu surat pun balasan dari mamanya. Ada apa ini? Apa lebih baik aku langsung tlfon mama? Benar Dina sibuk menimbang-nimbang. Cewek itu masih tegak di depan komputernya, ketika didengarnya suara dering telfon, bergegas Dina keluar kamar untuk menjawabnya.
Langkah Dina saat dering itu berhentidan digantikan suara Tante Ira. Dina sudah berbalik kembali ke kamarnya. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti. Dina terdengar jalas tantenya mneyebut nama mamanya. Mama-kah yang telfon? Dina mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar. Lagi pula siapa tahu mama ingin berbicara padanya.
Suara Tante Ira terdengar pelan, nyaris Cuma bisikan. Tanpa sadar Dina semakin mendekat ke balik lemaridan mendekam di situ ia bisa mendengar lebih jelas apa yang tengah dibicarakan. Tak biasanya Dina menguping begitu, tapi entah kenapa saat itu rasa penasarannya memaksa dia bertingkah sekonyol itu.
“Tidak, kak….aku belum siap.”
Belum siap untuk apa? Dina membatin sendiri. Sesaat Cuma sepi yang mengambang.
“Ya, kurasa itu lebih baik. Biarkan Dina menganggapku seperti itu.”
Lho, kok nama ku ikut disebut? Ada apa ini? Dina makin tertarik untuk terus mendengarkan.
“Yang aku dengar memang begitu. Sampai sekarang Irvan belum menikah.”
Irvan? Siapa dia itu?
“Kak Ida tahu, aku memang masih mencintainya. Tapi aku tidak akan melakukannya, Kak! Dia tak perlu tahu soal Dina.”

Pada tahap tengah ini dalam cerpen ketika Dina baru mengetahui alas an dari masalah tersebut.

c. Tahap Akhir
Disebut dengan peleraian menapilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks yang berisi bagaimana kesedihan cerita dan bagaimana akhir disebuah cerita.
Pada cerpen ini akhirnya Dina bisa menyadari dengan apa yang terjadi pada Dina yang baru tahu kalau Dina ternyata tak berbapak, tapi dengan kejadian itu Dina dan Tante Ira tetap masih saying dan lebih menyanyangi lagi.
Bukti pada cerpen ini pada akhir-akhir,

Hangatnya suara itu membuat hati Dina ikut mencair, menyatu dengan kelembutan yang ada. Dina tak tahu siapa yang mulai, tahu-tahu mereka sedah berpelukan erat.
“Kamu tahu Din, sudah lama aku ingin sedekat ini dengan mu.”
“Maafkan Dina,” isaknya dengan bibir gemetar.
“Sst…. Sudah, jangan menangis terus. Nanti malam matamu akan kelihatan bengkak, dan kamu tak bisa menatap Roy-mu… ayo sekarang senyum. Sebentar malam Roy dating menjemputmu.”
“Makasih…Tan…te.” Ragu Dina mengucapkan kata itu.
“Mulai sekarang kamu tak boleh sedih lagi ya…kamu mesti ingat, bahwa aku menyanyangimu.”
“Dina juga saying…..Bunda.” ucap Dina, tak sadar dari mana kata itu tiba-tiba saja muncul dan meluncur enteng dari bibirnya.
“Manis sekali panggilan itu…….”
“Dina kembali merasakan pelukan Tante Ira.” “Terima kasih, Sayang.”
Mereka berpelukan erat. Seolah ingin berbagi kehangatan. Berbagi kebahagiaan dan cinta. Mau tak mau Dina jadi teringat kata-kata Roy.
Ternyata Roy benar, dia sering mengatakan kalau cinta mempunyai kekuatan ajaib. Sebuah kekuatan yang bisa membawa perubahan. Bahkan untuk sebuah cinta yang pernah tertunda lama……

4. Penokohan
Tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan penokohan pelukisan gambaran yang jelas tentang seorang yang ditampilkan oleh sebuah cerita.
Pada cerpen ini tokohnya yaitu :
1. Dina
2. Tante Ira
3. Mama dan Papa => orang tua Dina
4. Roy => pacar Dina
5. Erni => teman Dina
6. Irvan => kekasih Tante Ira
Penokohan terdapat pada perbedaan tokoh
a. Tokoh Utama
Tokoh utama pada cerpen ini yaitu Dina dan Tante Ira, karena dilihat cirita dari awal Dina selalu muncul dan Tante Ira juga sering keluar.
b. Tokoh Tambahan
Tokoh tambahan pada cerpen ini yaitu :
1. Mama Papa Dina yang ada di luar negeri, kehadiran tokoh ini ketika Dian ingin Tanya kabar di sana.
2. Rpy, yaitu pacar Dina, tokoh ini muncul ketika Dina membutuhkan teman, walaupun hanya lewat telfon saja.
3. Erni yaitu teman Dina, tokoh ini muncul ketika Dina lagi membutuhkan teman, dikala senang dan susah. Pada cerpen ini Erni muncul ketika Dina ada masalah dengan Tante Ira yang tak mengizinkan mereka untuk pergi ke acara prom night akhir bulan.
c. Tokoh Protagonis dan Antagonis
1. Tokoh Protagonis
Yaitu tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan pengejaran tahap norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita, Alfen Biend dan Levis 1996 : 59.
Tokoh protagonis yang ada pada cerpen ini yaitu, Roy dan Erni mereka merupakan teman yang terbaik bagi Dina, sedangkan Dina dia sebenarnya berwatak baik, akan tetapi agak keras kepala. Dia memiliki sikap dan sifat yang besar hati atas segala kebenanran yang belum dia ketahui selama ini.
Maka dari itu wajar saja Dina yang masih remaja, dan keinginan untuk bermain keluar bersama teman-temannya masih menggebu, akan tetapi tekanan dari Tante Ira yang menentang menjadikan Dina sering marah-marah dan murung, keadaan Dina waktu itu sangat jengkel dengan perilaku tantenya.
Kemudian pada Roy sang kekasih dilihat dari perhatiannya dengan Dina, menunjukkan kalau cinta Roy itu benar-benar tulus pada Dina, akan tetapi sikap itu tidak menjadikan jaminan Tante Ira untuk percaya dengan orang lelaki.
Pada tokoh cerita Erni sahabat Dina, dia juga mampu membuat Dina tersenyum, karena persahabatannya yang baik, sehingga dimana ada Dina yang sedang sedih atau suka, Erni selalu ada di sampingnya.

5. Pelataran
Latar atau setting yang berupa tempat, waktu, lokasi.
Pada cerpen ini terdapat latar lokasi,
• Di rumah Tante Ira yang meliputi ruang tamu, kamar Dina.
• Di Singapura/luar negeri tempat orang tua Dina.

Latar waktu berhubungan dengan kapan terjadinya peristiwa-peristiwa itu yang diceritakan pada sebuah karya fiksi.
Pada cerpen ini latar waktu,
• Pada malam hari ketika Dina membuka email dari ibunya ketika Tante Ira menerima telfon dari mamanya Dina.
• Pada sore hari ketika kebenaran itu diceritakan pada Dina.


6. Penyudut Pandangan
Sudut pandang (point of view) menyaran pada cara sebuah cerita yang dikisahkan, ia merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi.
Pada cerpen ini ada beberapa sudut pandang, yaitu :
a. Sudut pandang pesona pertama “Aku” pada cerpen ini terletak pada tokoh Roy yang sebagai pacar Dina, dimana sudut pandang pertama digunakan ketika Roy berusaha meyakinkan Dina
Bukti cerpen :
“Aku yakin, cinta sejati nggak akan pernah mengecewakan, meski di awal nggak bias berjalan dengan mulus, tetapi pasti akan menembus akhir yang membahagiakan.”

“Aku” yang terletak pada tokoh Dina digunakan ketika berbicara dengan Erin sahabatnya.
Bukti cerpen :
“Aku bingung Er……”
“Aku nggak tega…… makannya aku memilih sekolah di sini.”

“Aku” yang terletak pada tokoh Dina digunakan ketika berbicara dengan Tante Ira.
Bukti cerpen :
“Maaf tante, Aku memang salah.”
“Aku nggak akan datang tante.”

“Aku” yang terletak pada tokoh Tante Ira ketika bersama orang tua Dina yang menceritakan masalah lalunya.
Bukti cerpen :
“Aku sadar, suatu saat Dina harus tahu, tapi jangan sekarang ini.”

“Aku” yang terletak pada tokoh Tante Ira ketika berbicara dengan Dina, dalam menjelaskan kebenaran yang sebenarnya terjadi.
Bukti cerpen :
“Aku nggak mau kamu hamil sebelum menikah, Dina”
“Apa maksud Tante ?”
“Aku hamil saat usiaku belum mencapai dua puluh tahun.”
b. Sudut pandang pesona ketiga. Pada cerpen ini terdapat pada kata “Ia/Dia”. “Ia” merujuk pada Dina.
“Tapi lagi-lagi ia harus kecewa lagi karena tak satupun surat balasan dari ibunya.”

“Ia” merujuk pada Tante Ira.
“Tante Ira itu sebetulnya baik. Dia itu perhatian banget. Cerewet sih iya, tapi Dia tuh nggak pernah lupa sama semua kebutuhanku. Mulai dari makanan sampai ke pembalut. Hebat kan ?”

“Ia” merujuk pada Om Irvan.
“Kak Ida aku tahu, aku memang masih mencintainya. Tapi aku tidak akan melakukan, kak. Dia tak perlu tahu soal Dina.”

7. Bahasa
Bahasa adalah sebuah sistem tanda yang telah mengkonversi yang mempunyai cirri-ciri struktur kebahasaan atau gaya bahasa (style) yang terdapat pada karya tersebut.

8. Simpulan
Dengan menggunakan teori kajian structural dan kajian psikologi dalam menganalisis sebuah karya sastra, penulis dapat mengetahui dan menyimpulkan bahwasanya cerpen ini menceritakan tentang adanya sebab awal dari orang tuanya yaitu hamil di luar nikah, hamil pada usia sebelum dua puluh tahun. Akhirnya anak yang dilahirkan benar-benar dijaga, agar tidak terulang lagi kejadian –kejadian yang tidak diinginkan oleh Tante Ira.
Akhirnya kebenaran itu baru terungkap ketika Dina sekolah SMP, yang begitu banyak tekanan-tekanan yang menjadikan Dina bertanda Tanya besar kepada Tante Ira. Walaupun Dina baru mengetahui akhir-akhir itu, Dina tetap sabar dan ihklas untuk menerimanya, walaupun sebenarnya hati dan hidup Dina tak ada gunanya lagi.
Cerpen ini terdapat nilai- nilai positif dari amanatnya. Dari sini pembaca akan dapat mengambil hikmahnya, khususnya pada remaja-remaja sekarang yang tak tau aturan, sana sini pergi bergandeng cewek dan cowok yang akhirnya belum tau apakah cinta mereka itu benar-benar untuk selamanya atau tidak.
Cerpen ini begitu membangun nilai pada pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan. 1994. “Teori Semiotik Dalam Kajian Kesusasteraan”. Cakrawala Pendidikan No I Tahun XII, halaman 51 – 66
Nurgiyantoro, Burhan. 1994. “Teori Pengkajian Fiksi”. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Kampus Tercinta, Jakarta “Majalah Gadis”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar